KODIFIKASI HADITS PDF

Ringkasnya, dapat dikatagorikan menjadi dua katagori, yaitu periode periwayatan melalui lisan dan periode pengumpulan hadits dalam bentuk tulisan. Ceriterakan saja yang kamu terima dariku, tidak mengapa. Walaupun, tentu saja, ini sekedar dugaan semata. Allah swt.

Author:Shaktilkree Yozshum
Country:Angola
Language:English (Spanish)
Genre:Photos
Published (Last):25 February 2010
Pages:223
PDF File Size:17.53 Mb
ePub File Size:12.87 Mb
ISBN:730-8-95492-345-8
Downloads:70540
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Zura



Pengertian Kodifikasi Yang dimaksud kodifikasi tadwin adalah mengumpulkan, menghimpun atau membukukan, yakni mengumpulkan dan menertibkannya. Adapun yang dimaksud dengan kodifikasi hadis adalah menghimpun catatan-catatan hadis Nabi dalam mushaf. Secara umum dapat disimpulkan bahwa kodifikasi ialah suatu proses dimana dilakukannya upaya penghimpunan, pembukuan, pengklasifikasian, pencatat dan pemberian tanda terhadap suatu objek tertentu.

Apabila yang menjadi objek penghimpunan, pengumpulan dan pencatatan itu adalah hadis-hadis, disebutlah kodifikasi hadis. Dengan demikian, secara sederhana kodifikasi dapat diartikan sebagai usaha menghimpun, mengumpul dan mencatat hadis- hadis Rasul saw. Sebagaimana dikatakan M. Kegiatan penghipunan hadis dilakukan secara mandiri oleh masing-masing ulama ahli hadis. Sekiranya penghimpunan hadis itu harus dilakukan oleh sebuah tim, niscaya tim itu akan menjumpai banyak kesulitan, karena jumlah periwayat hadis sangat banyak dan tempat tinggal mereka tersebar di berbagai daerah Islam yang cukup berjauhan.

Di samping itu, hadis Nabi tidak hanya termuat dalam satu kitab saja. Kitab yang memuat hadis Nabi cukup banyak ragamnya, baik dilihat dari segi nama penghimpunnya, cara penghimpunannya, masalah yang dikemukakannya, maupun bobot kualitasnya.

Masa kodifikasi tadwin hadis terbagi dua, yaitu kodifikasi hadis yang bersifat pribadi tadwin al-syakhshiy dan kodifikasi hadis secara resmi tadwin al-rasmiy. Kodifikasi yang bersifat pribadi belum menjadi kebijaksanaan pemerintah secara resmi sudah dimulai sejak masa Rasul. Sementara kodifikasi hadis secara resmi menjadi kebijaksanaan pemerintah secara resmi baru dimulai pada masa Umar ibn Abdul Aziz. Kodifikasi Hadist Secara Resmi 1. Kenapa kemudian Hadits Dikodifikasi Kodifikasi Hadits itu justru dilatar belakangi oleh adanya usaha-usaha untuk membuat dan menyebarluaskan hadits-hadits palsu dikalangan ummat Islam, baik yang dibuat oleh ummat Islam sendiri karena maksud-maksud tertentu, maupun oleh orang-orang luar yang sengaja untuk menghancurkan Islam dari dalam.

Dan sampai saat ini ternyata masih banyak hadits-hadits palsu itu bertebaran dalam beberapa literatur kaum Muslimin. Di samping itu tidak sedikit pula kesalahan-kesalahan yang berkembang dikalangan masyarakat Islam, berupa anggapan terhadap pepatah-pepatah dalam bahasa Arab yang dinilai mereka sebagai hadits.

Walaupun ditinjau dari segi isi materinya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip pokok ajaran Islam, tetapi kita tetap tidak boleh mengatakan bahwa sesuatu ucapan itu sebagai ucapan Rasulullah kalau memang bukan sabda Rasul. Sebab Sabda Rasulullah : "Barangsiapa berdusta atas namaku maka siap-siap saja tempatnya dineraka". Alhamdulillah, berkat jasa-jasa dari ulama-ulama yang saleh, hadits-hadits itu kemudian sempat dibukukan dalam berbagai macam buku, serta diadakan seleksi-seleksi ketat oleh mereka sampai melahirkan satu disiplin ilmu tersendiri yang disebut Ilmu Musthalah Hadits.

Walaupun usaha mereka belum dapat membendung seluruh usaha-usaha penyebaran hadits-hadits palsu dan lemah, namun mereka telah melahirkan norma-norma dan pedoman-pedoman khusus untuk mengadakan seleksi sebaik-baiknya yang dituangkan dalam ilmu musthalah hadits tersebut. Sehingga dengan pedoman itu ummat Islam sekarang pun dapat mengadakan seleksi-seleksi seperlunya. Nama-nama Ishak bin Rahawih, Imam Bukhari, Imam Muslim, ar-Rama at-Turmudzi, al-Madini, Ibnu Shalah dan banyak lagi ulama-ulama saleh lainnya adalah rentetan nama-nama yang besar jasanya dalam usaha penyelamatan hadits-hadits dari kepalsuan-kepalsuan sehingga lahirlah ilmu tersebut.

Pendapat Ulama tentang KApan Kodifikasi Secara Resmi Ada beberapa pendapat yang berkembang mengenai kapan kodifikasi secara resmi dan serentak dimulai. Adapun siapa kodifikator hadis pertama, muncul nama Ibnu Shihab al-Zuhri w. Demikian pandangan yang dirunut sebagian besar sejarawan dan ahli Hadis.

Adapun ulama yang berpandangan Muhammad Abu Bakr ibn Amr ibn Hazm yang mengkodifikasikan hadis pertama, ditolak oleh banyak pihak, karena tidak digandakannya hasil kodifikasi Ibn Amr ibn Hazm untuk disebarluaskan ke berbagai wilayah. Rasyid Ridha H berpendapat seperti itu, berdasar periwayatan, Khalid telah menyusun kitab pada masa itu yang diberi kancing agar tidak terlepas lembaran-lembarannya.

Terbukti adanya naskah kompilasi hadis dari abad I H, yang sampai kepada kita, yakni al-Sahifah al-Sahihah. Tidak ada lagi kekhawatiran bercampurnya hadis dengan Alquran, karena Alquran ketika itu telah dibuktikan dan disebarluaskan.

Munculnya kekhawatiran akan hilang dan lenyapnya hadis karena banyak para sahabat yang meninggal dunia akibat usia atau karena seringnya terjadi peperangan. Semakin maraknya kegiatan pemalsuan hadis yang dilatar belakangi oleh perpecahan politik dan perbedaan mazhab di kalangan umat Islam. Hal ini upaya untuk menyelamatkan hadis dengan cara pembukuannya setelah melalui seleksi yang ketat harus segera dilakukan.

Karena telah semakin luasnya daerah kekuasaan Islam disertai dengan semakin banyak dan kompleksnya permasalahan yang dihadapi umat Islam, maka hal tersebut menuntut mereka untuk mendapat petunjuk dari hadis Nabi saw.

Perkembangan Kitab-kitab Hadits 1. Cara penyusunan kitab-kitab hadits. Dalam penyusunan kitab-kitab hadits para ulama menempuh cara-cara antara lain : a. Penyusunan berdasarkan bab-bab fiqhiyah, mengumpulkan hadits-hadits yang berhubungan dengan shalat umpamanya dalam babush-shalah,hadits-hadits yang berhubungan dengan masalah wudhu dalam babul-wudhu dan sebagainya.

Cara ini terbagi dua macam : i. Dengan mengkhususkan hadits-hadits yang shahih saja, seperti yang ditempuh oleh Imam Bukhari dan Muslim. Penyusunan berdasarkan nama-nama sahabat yang meriwayatkannya.

Cara ini terbagi empat macam : i. Dengan menyusun nama-nama sahabat berdasarkan abjad. Dengan menyusun nama-nama sahabat berdasarkan nama qabilah. Mereka dahulukan Banu Hasyim, kemudian qabilah yang terdekat dengan Rasulullah. Dengan menyusun nama-nama sahabat berdasarkan kronologik masuknya Islam.

Mereka didahulukan sahabat-sahabat yang termasuk assabiqunal awwalun kemudian ahlul Badr, kemudian ahlul Hudaibiyah, kemudian yang turut hijrah dan seterusnya. Seperti yang ditempuh oleh Ibnu Hibban dalam shahehnya. Penyusunan berdasarkan abjad-abjad huruf dari awal matan hadits, seperti yang ditempuh oleh Abu Mansur Abdailani dalam Musnadul Firdausi dan oleh as-Suyuti dalam Jamiush-Shagir. Kitab-kitab Hadits Pada Abad ke-2 H. Kitab-kitab hadist pada abad ke-II diantara lain : a. Isa al-Asadi.

Seluruh kitab-kitab hadits yang ada pada abad ini tidak sampai kepada kita kecuali 5 buah saja yaitu nomor 1 sampai dengan 5. Kitab-kitab Hadits pada abad ke-3 H. Masing-masing kitab memiliki kekhasan yang dimiliki pengarangnya. Oleh karenanya untuk merujuk sebanyak mungkin satu tema hadis tertentu secara komprehensif adalah dengan mempergunakan sebanyak mungkin informasi dari berbagai kitab hadis qualified.

Diantaranya ialah : a. As-Sunan oleh Imam Ahmad b. Al-Mushannaf oleh Imam Ibn. Abi Syaibah wafat H. Al-Musnad oleh Abdibni ibn Humaid wafat H. Al-Musnad oleh Imam Ibn. Al-Musnad oleh Imam Musaddad bin Musarhadin wafat Kitab-kitab Hadits Pada Abad ke-4 H. As-Sunan oleh Imam Darulkutni wafat H. Al-Mushannaf oleh Imam Thahawi wafat H. Al-Musnad oleh Imam Hawarizni wafat H. Perkembangan Ilmu Hadits Ilmu Hadits yang kemudian populer dengan ilmu mushthalah hadits adalah salah satu cabang disiplin ilmu yang semula disusun oleh Abu Muhammad ar-Rama al-Hurmuzi wafat , walaupun norma-norma umumnya telah timbul sejak adanya usaha pengumpulan dan penyeleksian hadits oleh masing-masing penulis hadits.

Secara garis besarnya ilmu hadits ini terbagi kepada dua macam yaitu : ilmu hadits riwayatan dan ilmu hadits dirayatan. Ilmu hadits dirayatan membahas hadits dari segi diterima atau tidaknya, sedang ilmu hadits riwayatan membahas materi hadits itu sendiri. Dalam perkembangan berikutnya telah lahir berbagai cabang ilmu hadits, seperti : a. Ilmu rijalul hadits, yaitu ilmu yang membahas tokoh-tokoh yang berperan dalam periwayatan hadits.

Ilmu panilmubhamat, yaitu ilmu yang membahas tentang orang-orang yang tidak nampak peranannya dalam periwayatan suatu hadits. Ilmu tashif wat-tahrif, yaitu ilmu yang membahas tentang hadits-hadits yang berubah titik atau bentuknya. Ilmu gharibil hadits, yaitu ilmu yang membahas tentang kalimat-kalimat yang sukar dalam hadits. Ilmu asbabi wurudil hadits, yaitu ilmu yang membahas tentang sebab timbulnya suatu hadits. Ilmu talfiqil hadits, yaitu ilmu yang membahas tentang cara mengumpulkan hadits yang nampaknya bertentangan.

Sumber: Lupa dan tidak saya temukan di arsip saya. Makalah ini dapat didownload di sini. Diposting oleh.

HEMORRAGIE DIGESTIVE PDF

Buku Elektronik

Latar Belakang Hadis adalah berita tentang segala hal yang dilakukan oleh rasulullah Muhammad. Saat di zaman Nabi hadis belum terkodifikasi pembukuan secara utuh. Tetapi barang siapa sengaja berdusta atas namaku, hendaknya ia mempersiapkan tempat duduk baginya di neraka. Mereka seolah menangkap makna tersirat dari ucapan-ucapan Nabi, bahwa akan datang suatu masa yang pada waktu itu hadis-hadis nabi dilupakan, diabaikan, dan tidak digunakan lagi. Mereka yakin jika hadis-hadis Nabi tidak di catat, akan banyak kerusakan di tubuh umat Nabi Muhammad. Mereka berinisiatif menulis hadis-hadis nabi dan mereka simpan baik-baik. Ada beberapa yang mendapat izin resmi dari rasulullah, di antaranya Abu Syah al-Yamani dan Anas bin Malik.

DOCMD.OUTPUTTO ACOUTPUTREPORT FORMAT PDF

Pengertian Hadits

Kodifikasi Hadits Definisi Umum Hadits Pengertian hadits adalah segala bentuk perkataan, perbuatan, persetujuan serta beberapa ketetapan dari Rasulullah SAW yang dijadikan sebagai suatu dasar ketetapan dalam hukum agama Islam. Pengertian Hadits Menurut Etimologi Secara harfiah, hadits berarti perkataan atau percakapan. Sedangkan menurut terminologi dalam agama Islam, hadits merupakan ketetapan dan hukum dalam agama Islam yang berasal dari perkataan, perbuatan, berikut ketetapan dan juga persetujuan dari Rasulullah SAW. Definisi Hadits Menurut Ahli Menurut ahli hadits diantaranya adalah Al Hafidz dalam Syarh Al bukhary dan Al Hafizh dari Shakawu, hadits adalah segala ucapan, perbuatan, dan juga keadaan dari Nabi Muhammad SAW termasuk didalamnya segala macam keadaan beliau yang diriwayatkan dalam sejarah baik itu tentang kelahiran beliau, tempat tempat tertentu dan peristiwa peristiwa tertentu yang berkaitan dengan itu, baik sebelum dibangkitkan sebagai Rasulullah maupun setelahnya.

BULCHANDANI BUSINESS LAW PDF

Sejarah Lengkap Kodifikasi Hadis Nabi SAW dari Abad I – Abad V

Latar Belakang Sebagai salah satu kajian terhadap teks-teks keagamaan seperti tafsir, fiqh dan tauhid, hadits nampaknya terlahir sebagai sebuah kajian awal dalam diskursus keagamaan agama Islam. Mengingat pentingnya hadis dalam dunia Islam, maka kajian-kajian atas hadis semakin meningkat, sehingga upaya terhadap penjagaan hadis itu sendiri secara historis telah dimulai sejak masa sahabat yang dilakukan secara selektif demi menjaga keotentikan hadis itu sendiri. Oleh karena itu dalam pembahasan ini penulis akan menyajikan pembahasan singkat tentang perkembangan hadis sebelum era kodifikasi dan sesudahnya, dilanjutkan dengan pembahasan tentang pusat-pusat studi hadis dan para tokoh-tokohnya secara rinci. Adapun metode yang akan dipakai dalam kajian ini adalalah termasuk kategori penelitian literer atau study pustaka dengan objek berupa naskah-naskah utama primer , meski tidak menutup kemungkinan adanya referensi lain sebagai bahan rujuakan sebagai sumber kedua skunder yang erat kaitannya dengan persoalan yang akan dibahas. Pengertian Kodifikasi Hadits Adapun yang dimaksud dengan kodifikasi hadis pada periode ini adalah pembukuan hadis secara resmi yang diabadikan dalam bentuk tulisan atas perintah seorang pemimpin kepala negara dengan melibatkan orang-orang yang mempunyai keahlian dibidangnya. Tidak seperti kodifikasi yang terjadi pada masa rasulullah SAW.

Related Articles