EBOOK NOVEL ENNY ARROW PDF

Memulai karirnya sebagai wartawan pada masa pendudukan Jepang, belajar Steno di Yamataka Agency, kemudian direkrut menjadi salah satu propagandis Heiho dan Keibodan. Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Enny Arrow bekerja sebagai wartawan Republikein yang mengamati jalannya pertempuran di seputar wilayah Bekasi. Pada tahun Enny Sukaesih menulis karangan dengan judul "Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta" karangannya ini merupakan pertama kali ia mengenalkan nama samaran sebagai "Enny Enny Arrow, adalah nama yang begitu melekat dalam dunia penulisan Indonesia pada tahun , karya-karyanya adalah yang paling banyak dibaca generasi muda Indonesia, terlahir dengan nama Enny Sukaesih Probowidagdo, lahir di Desa Hambalang, Bogor tahun Pada tahun Enny Sukaesih menulis karangan dengan judul "Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta" karangannya ini merupakan pertama kali ia mengenalkan nama samaran sebagai "Enny Arrow" kata Arrow ia dapatkan sesuai dengan nama toko penjahit di dekat Kalimalang yang bernama Tukang Djahit "Arrow", di toko tempat penjahit itulah Enny Sukaesih pernah bekerja sebagai penjahit pakaian. Setelah Gestapu , suasana politik tidak menentu, Enny Arrow kemudian berkelana ke Filipina pada bulan Desember , dari Manila ia pergi ke Hong Kong dan kemudian ia mendarat di Seattle Amerika Serikat pada bulan April Di Amerika Serikat Enny Arrow belajar penulisan kreatif bergaya Steinbeck, setelah menemukan irama Steinbeck, Enny Arrow mencoba menuliskan beberapa karyanya di koran-koran terkenal Amerika Serikat, salah satu karya Enny Arrow adalah novel dengan judul : "Mirror Mirror".

Author:Nikojas Daigami
Country:Sierra Leone
Language:English (Spanish)
Genre:Automotive
Published (Last):12 September 2009
Pages:276
PDF File Size:8.99 Mb
ePub File Size:12.43 Mb
ISBN:269-9-98710-332-4
Downloads:17198
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Molkree



Lima remaja tanggung itu hening dalam kesibukan fikiran masing-masing. Tak ada cakap. Hanya deru nafas yang terdengar memburu. Seperti bersahutan. Hanya itulah dialog yang mewakili fikiran dan perasaan kelimanya. Jingga menyapu langit Pamanukan. Cahayanya menerobos masuk jendela kamar bertirai kain berwarna telor asin.

Lima remaja tanggung itu masih asik dengan buku kecil bersampul putih di tangan masing-masing. Kelimanya mengambil posisi favoritnya masing-masing. Tonny tampak duduk menjepit guling di pahanya. Nana memilih tengkurap memeluk bantal.

Ade duduk bersandar. Kakinya berselonjor. Sedangkan Andra duduk di depan meja belajar seraya mengangkat kaki ke atas meja. Sementara Darman, si empunya kamar, memilih duduk di atas kursi di pojok kamarnya. Pupil mata mereka membesar. Jakunnya naik turun. Adrenaline kelimanya deras mengalir. Wajah mereka gelisah. Ada gairah yang bergejolak. Menandakan mereka tenggelam dalam fantasi erotis masing-masing.

Buku bersampul putih itu berukuran kecil. Seukuran buku saku pada umumnya. Berkertas tipis yang dicetak dengan mesin pencetak penemuan David Gestetner sekitar tahun silam.

Walaupun bentuknya sangat sederhana, namun isinya sungguh dahsyat; yaitu cerita mesum pasangan muda — mudi, atau kisah tentang tante — tante kesepian, atau om — om senang yang doyan daun muda. Semua ceritanya ditulis dengan bahasa yang vulgar dengan setting adegan yang liar. Enny Arrow adalah nama penulis favorit penggemar buku yang beken disebut stensil itu.

Tidak ada yang dapat memastikan siapa sesungguhnya sosok di balik nama yang menggoda itu. Baca aja ceritanya. Cover buku stensil biasanya menampilkan sosok perempuan seksi dengan pakaian mini. Karena takut ketahuan orangtua atau guru biasanya buku Enny Arrow tersebut dibungkus dengan sampul lain. Sampul putih polos menjadi pilihan Andra dan kawan-kawan untuk mengelabui orangtua mereka.

Terkadang mereka menyelipkannya di tengah buku pelajaran, sehingga dikira sedang sungguh-sungguh belajar. Udah selesai bacanya, belum? Dia kaget karena ceweknya mati. Rame atuh. Trus… trus? Terusnya gitu deh. Meski dijual secara sembunyi-sembunyi namun cukup gampang mendapatkannya.

Tinggal datang ke warung rokok di sepanjang Eyang Tirtapraja, dari arah perempatan Pamanukan ke Barat, erostisme Enny Arrow sudah bisa hadir di benak remaja pada waktu itu.

Harganya juga tidak bikin kantong bolong. Cukup dengan dua sampai tiga ribu perak, buku itu langsung didapat. Biasanya remaja — remaja bengal yang mencari stensilan akan berpura-pura membolak balik TTS atau cergam Petruk — Gareng yang dijajakan dengan cara digantung. Secepat kilat buku langsung berpindah tangan setelah uang disodorkan. Buat yang males beli, Taman Bacaan bisanya menyediakan buku jenis ini secara diam-diam. Hanya langganan tertentu yang biasanya diberi kesempatan meminjamnya.

Di Pamanukan saat itu hanya ada dua Taman Bacaan yang menyewakan komik dan novel-novel picisan. Dari sanalah alternatif lain Enny Arrow bisa dijumpai. Hening kembali menguasai suasana. Hanya deru nafas yang menggantikan dialog mereka di suasana sore itu. II Hawa laut utara menyesap ke dalam hidung.

Angin Barat bertiup, menerpa tubuh — tubuh lima remaja bercelana pendek itu. Berjalan beriringan mereka meniti pematang di antara empang — empang warga yang banyak terdapat di daerah Mayangan. Daerah pesisir di Utara Pamanukan. Di kejauhan sayup — sayup suara musik tarling seperti melambai-lambai, mengundang siapapun yang masih terjaga malam itu untuk mendekat.

Musik yang banyak dimainkan di kawasan pesisir Jawa Barat itu menjadi hiburan pelepas lelah kaum nelayan yang baru turun melaut. Ditemani para biduan dengan dandanan menor dan wangi semerbak bedak plus prafum murahan cukup mampu menggoda kaum Adam yang sedang gelisah. Ke sanalah lima remaja tanggung itu bergerak. Bulan di langit tinggal separuh.

Alunan musik tarling semakin jelas. Lagu Pemuda Idaman menguar dari sound system yang terdengar sember. Sesekali terdengar suara tawa genit para perempuan diiringi teriakan-teriakan nakal para lelaki. Ia mengajak bergegas teman — temannya. Emangnya bubar jam berapa acaranya? Tapi kalo udah malem ceweknya nggak ada. Sejak menjelang petang lima remaja tanggung itu sudah berencana mendatangi kawasan pesisir pantai di daerah Mayangan.

Kelimanya penasaran dengan cerita — cerita tentang jenis tarian yang dibawakan para perempuan muda berdandan menor. Orang Pamanukan menyebutnya Dombret. Sebuah tradisi masyarakat lokal sebagai cara menghibur diri selepas lelah melaut.

Tapi sebatas sekwilda. Pada zamannya, sekira tahun an, Dombret, sebagian orang lain menyebutnya Dongbret, kesenian tradisi di pesisir Utara, Jawa Barat, khususnya sepanjang pantai Blanakan sampai Pamanukan, merupakan bagian kesenian yang diadakan untuk mengisi upacara nadran atau pesta laut. Upacara ini digelar para nelayan sebagai wujud syukur kepada Yang Kuasa atas limpahan rejeki melalui ikan yang mereka dapat selama kurun waktu satu tahun.

Perkembangan zaman membuat kesenian Dombret berubah fungsi. Tidak lagi hanya bisa ditemui saat pesta nadran, kesenian Dombret dapat ditemui hampir di setiap waktu terutama di lokasi dekat pelalangan. Dombret menjadi hiburan pelepas lelah para nelayan selepas melaut.

Berikutnya tidak hanya para nelayan yang melaut, para tengkulak dan orang-orang yang bekecimpung dalam bisnis perikanan yang bertransaksi di sekitar pelelangan juga turut menikmati hiburan rakyat ini. Seperti juga malam itu para pengunjung ke lokasi kesenian Dombret lebih banyak didominasi kaum pelancong alias mereka yang bukan nelayan, dan bukan warga setempat.

Mereka datang tentu saja tidak hanya sekadar melepas penat dengan melihat para Dombret menari dan menyanyi. Seperti juga Andra dan empat sekondannnya yang datang karena didorong rasa penasaran tentang kisah para biduan dombret yang bisa diajak mesum.

Dulu, dulu sekali, musik pengiring dombret bukan menggunakan musik Tarling, melainkan ketuk, kecrek, kendang, rebab dan gong kecil. Meski sederhana namun, bunyi-bunyian yang dihasilkanya cukup riang dan mengundang orang untuk datang dan menari bersama para Dombret.

Para Dombret yang terdiri para gadis muda itu memasuki arena, satu di antara mereka langsung menyanyikan kidung berisi mantra layaknya mendaraskan sebuah doa agar semuanya lancar. Setelah itu para penonton boleh menari dengan para dombret pilihannya. Bahkan boleh mengajak mereka keluar arena untuk berkencan secara privat.

Sontak, seperti Pdikomando semua orang berlarian ke segala penjuru. Bunyit prrriiit… cukup membuat mereka yang hadir lintang pukang. Tanpa perlu memastikan lagi siapa yang datang, bunyi itu sudah mengisyaratkan kehadiran petugas polisi yang biasa melakukan razia.

Tak terkecuali Andra dan sekondannya. Mereka pun ngibrit, lari sekencang-kencangnya. Menerobos gelap. Melintasi pematang becek di antara empang dan tambak udang.

Pakaiannya penuh lumpur. Empat sekondannya tertawa terpingkal-pingkal. Gelak tawa membuncah meningkahi suara binatang malam. Serentak lima remaja tanggung itu menoleh ke sana. Sayup-sayup terdengar kembali musik tardug dengan suara genit sang biduan. Lampu-lampu kembali berpendar-pendar, setelah sebelumnya sempat dipadamkan. Sayup-sayup suasana pesta kecil-kecilan ala kampung nelayan di pesisir utara pulau Jawa itu kembali hidup.

Tanpa disadari Andra dan sekondannya, juga para pentonton yang lari lintang pukang, begitu mendengar suara pluit polisi, ternyata suara itu hanya berasal dari pluit yang iseng ditiupkan sesorang.

BROMELAIN POS PDF

Kumpulan Novel Enny Arrow

Ars Javanica PDF by: yus. Tinggal memakai sepatu Diam sejenak dan kemu- dian, melemparkan pandangannya jauh ke sebelah utara. Aku mau tidur lagi. Aku ngantuk. Katakan padanya

INTERNET MARKETING ROBERTS AND ZAHAY PDF

Lima remaja tanggung itu hening dalam kesibukan fikiran masing-masing. Tak ada cakap. Hanya deru nafas yang terdengar memburu. Seperti bersahutan. Hanya itulah dialog yang mewakili fikiran dan perasaan kelimanya.

SIMPLESMENTE COMO JESUS MAX LUCADO PDF

.

Related Articles